Tampilkan postingan dengan label ADHD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ADHD. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Februari 2014

Cara Menghadapi Anak Hiperaktif

Anak hiperaktif, dalam bahasa kedokteran disebut Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas (GPPH) adalah masalah perilaku yang kebanyakan terjadi pada anak – anak. Anak Hiperaktif sering membuat pusing kedua orang tua karena sifat dan tingkah laku anaknya banyak yang tidak dipahami. Seperti tiba - tiba memukul, susah diatur, menendang atau merusak benda - benda yang berada didekatnya. Anak hiperaktif tidak bisa dibiarkan begitu saja karena ke depan akan menjadi masalah yang buruk bagi anak dan kedua orangtuanya.


Sebetulnya Anda tidak perlu berpusing ria jika tahu cara menghadapi anak hiperaktif. Memang dibutuhkan kesabaran, ketelatenan dan mental yang kuat untuk menghadapi anak hiperaktif ini. Berikut ini adalah beberapa jurus atau cara menghadapi anak hiperaktif yang dirangkum dari berbagai sumber.



1. Mengalihkan Aktifitas Fisik



Kekuatan anak hiperaktif luar biasa, bergerak ke sana ke mari tanpa kenal lelah, berlari, memanjat dan apapun kegiatan yang menguras fisik dia sanggup melakukannya. Jangan marah dulu mom, energi si kecil yang luar biasa ini bisa Anda alihkan ke beberapa aktifitas fisik yang menyenangkan. Misalnya berkeliling komplek perumahan di pagi atau sore hari, membiarkan si kecil bertemu teman sebaya dan bermain, jika usia si kecil sudah cukup untuk diajak out bond maka ajak lah dia, salurkan energinya ke beberapa hobi yang mengandalkan fisik seperti belajar ilmu beladiri, bermain sepak bola, bersepeda dan lainnya.



2. Latihan Konsentrasi



Anak hiperaktif sangat sulit untuk berkonsentrasi. Anak hiperaktif tidak akan mau mendengar saat kita sedang menjelaskan sesuatu, tidak bisa diam dalam waktu yang lama dan bersikap tenang. Tipsnya, ajaklah si kecil untuk menggambar, mewarnai dan menyusun puzzle. Ketiga aktifitas tersebut kebanyakan disukai anak - anak dan memang efektif untuk melatih konsentrasi si hiperaktif. Biarkan dia menuangkan imaginasinya dalam sebuah gambar dan biarkan dia bebas mewarnai gambar yang sudah dibuatnya.



3. Konsisten Ajarkan Sopan Santun



Do and don't tetap Anda berlakukan pada anak hiperaktif. Meski dia terlihat cuek saat Anda mengajarkan sesuatu, dia tetap mendengarkan. Anda pernah merasa takjub karena tiba - tiba anak Anda mengingat semua yang Anda ajarkan, padahal saat itu dia seperti tidak mendengarkan kata - kata Anda. Bersabarlah untuk terus konsisten mengajarkan anak hiperaktif sopan santun. Saat waktunya makan, beri tahu dia bahwa saat makan tidak boleh berlarian atau banyak bergerak. Saat di tempat umum, katakan padanya untuk menjaga sikap.

 Misalnya dengan mengatakan "Ade diam dulu ya, Mama mau bayar mainan ade dulu," 

4. Pendekatan Emosional

Anak hiperaktif sangat membutuhkan perhatian kedua orangtuanya. Meski Anda bekerja, luangkan beberapa menit dalam sehari untuk berinteraksi dengannya. Misalnya mengobrol dengan anak, menemani anak bermain walau sebentar, mengajak anak bermain, jalan - jalan di sekitar rumah dan mengajaknya beribadah bersama. Percayalah, pendekatan emosional adalah salah satu terapi yang efektif untuk menghadapi anak hiperaktif.

5. Kendalikan Emosi Anda

Saat teriakan bahkan cubitan Anda sudah tidak mempan lagi bagi anak hiperaktif, kini saatnya bagi Anda untuk mengendalikan emosi Anda sendiri. Anak - anak hiperaktif memang sangat menguras emosi dan menguji kesabaran. Emosi boleh saja karena sangat manusiawi tapi setelah itu minta maaflah pada anak. 

Demikian tips cara menghadapi anak hiperaktif. Dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang tinggi untuk menghadapi anak hiperaktif. Akan banyak menyita waktu Anda, tapi demi kebaikan anak kenapa tidak?

Selamat mencoba.




Minggu, 09 Februari 2014

Mengenal Anak Hiperaktif

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas (GPPH) adalah masalah perilaku yang kebanyakan terjadi pada anak – anak. Kita sering mengenalnya dengan anak hiperaktif. Anak – anak hiperaktif mengalami gangguan pada masalah tingkah laku baik di rumah dan di lingkungan sekitar.

Anak hiperaktif bagi sebagian orangtua cukup mengganggu karena karakter anak hiperaktif memang berbeda dengan anak – anak pada umumnya. Gejala anak hiperaktif bisa terpantau sejak dini yakni pada usia 2 tahun. Usia 2 tahun adalah usia di mana anak – anak mengeksplorasi lingkungannya, tidak bisa diam, sentuh ini itu, tapi Anda perlu khawatir saat tingkah laku anak sudah diluar batas kewajaran.

Misalnya, anak sangat sulit diatur, teguran orangtua atau orang sekitar hanya mempan beberapa menit, bertingkah yang tidak semestinya dilakukan anak – anak seperti memanjat tidak pada tempatnya, tiba - tiba memukul, bergerak tidak beraturan, banyak bicara, tidak bisa konsentrasi, tidak mau diam dan bergerak secara impulsive atau bergerak tiba – tiba.

Kebanyakan orang mengira, tingkah laku anak balita yang aktif memang wajar tapi jika anak Anda mempunyai 5 dari ciri – ciri di atas kemungkinan anak Anda termasuk anak hiperaktif. Anak hiperaktif bukan tidak bisa ditangani, penanganan anak hiperaktif terletak pada kedua orangtuanya. Anak hiperaktif sangat membutuhkan perhatian lebih orangtuanya. 

Tingkah laku anak hiperaktif yang tidak wajar itu bukan karena salah asuhan orangtuanya, melainkan ada gangguan syaraf pada sel otak yang dipengaruhi oleh hormon dopamine yang berfungsi sebagai neurotransmiter.

Anak hiperaktif mengalami gangguan transportasi antara dopamine transporter dan dopamine reseptor dalam penerimaan dopamine di sel otaknya. Karena terjadi gangguan ini maka anak hiperaktif sangat tidak terkontrol emosinya. 

Anak hiperaktif bisa ditangani dengan berbagai cara yaitu pengobatan medis dan psikologis yang melibatkan dokter, psikiater, orangtua, keluarga besar, lingkungan dan guru. Anak – anak hiperaktif memang harus ditangani sejak dini karena jika tidak ditangani dengan baik kelak anak hiperaktif akan bermasalah dengan hidupnya. Misalnya kenakalan remaja, depresi, bahkan sampai bunuh diri.